SOCIAL MEDIA

Jumat, 15 September 2017

14 TAHUN BERSAMA


Kemarin, 14 tahun lalu, saya dan dia (baca: suami) memutuskan untuk berpacaran. Sebelum menikah, kami pacaran kurang lebih 10 tahun. Banyak temen yang bilang, "hebat banget sih bisa setia gitu, apa nggak bosen dan jenuh?" Atau ada juga yang nanya, "itu pacaran atau mau KPR rumah?" Hahaha.


Kalo ditanya pernah bosen atau jenuh, pasti pernah lah ya. Namanya juga manusia. Putus nyambung juga pernah di awal masa pacaran, karena waktu itu masih kelas 1 SMA jadi emosi nya masih labil, hehe. Tapi balik lagi soal komitmen. Kalo memang komitmen mau serius, ya nggak toleh kanan kiri. Mau nyari yang lebih ganteng banyaaak, tapi nyari yang pas di hati itu susah ya. 

Kalo ditanya apa dia memenuhi kriteria lelaki idaman saya? Jawabannya nggak. Mencari sesorang yang ideal itu hampir nggak mungkin. Semua pasti ada kurang nya, ada yang nggak cocoknya sama kita. Jadi solusinya ya dicocok-cocokin aja.

Kenapa saya bisa bertahan selama 10 tahun sama dia? Ya karena saya udah merasa 'klik' sama dia. Dia tetep ada kurangnya di mata saya, tapi dia jujur dan mau menerima saya apa adanya. Begitu pun sebaliknya. 

Yang saya petik selama 14 tahun kebersamaan ini adalah manusia bisa berubah. Karena manusia makhluk dinamis, manusia bisa berubah karena pengaruh lingkungan. Justru kalo nggak berubah itu malah ngeri ya. Misalnya udah berkeluarga, udah punya anak, tapi pikiran dan perilakunya masih kayak anak SMA.

Dulu jaman pacaran dia adalah orang yang nggak pinter ngomong, nggak gampang bergaul, malu ketemu sama orang baru. Setelah bekerja, dia mulai berubah. Bener-bener terbalik 180 derajat dari yang saya sebutin di atas. Itu bisa terjadi karena tanggung jawab, karena tuntutan pekerjaan ya.
Memang pekerjaannya harus komunikasi dengan orang baru ya mau nggak mau harus berani ngomong dan harus pede. Kalo nggak kerja nggak bisa makan, jadi mau nggak mau karena butuh ya.

Perubahan itu kadang nggak selalu positif. Bisa juga negatif. Contohnya nih, dulu waktu belum punya anak, emosi suami lebih terkendali. Bete di kantor trus pulang ke rumah bisa menenangkan diri. Sekarang udah punya anak, bete di kantor, pulang ke rumah anak-anak ribut rebutan mainan nggak ada yang mau ngalah dan nangis semua. Akhirnya emosi suami memuncak, nggak cuma anak yang dimarahin, tapi istri pun bisa jadi sasaran, hahaha. 

Pertanyaannya adalah, bisa nggak kita berdamai dengan perubahan-perubahan itu?

Jadi pacaran dan menikah itu buat saya bukan sekedar cinta aja. Tapi lebih kepada komitmen mau nggak untuk berproses dan bertumbuh bersama. 

Untuk suami saya, terima kasih ya buat 14 tahun yang penuh dengan ups and downs. Ada banyak tawa dan ada juga air mata. Semoga kita selalu diberkati oleh Tuhan supaya bisa bertumbuh bersama sampai maut memisahkan. 😚

Tidak ada komentar :

Posting Komentar