SOCIAL MEDIA

Kamis, 19 Oktober 2017

Bayi Tabung : Sebuah Keputusan yang Tak Mudah


Program bayi tabung ini sebenarnya sudah saya ikuti tahun 2014 lalu. Tapi saat mengikuti program bahkan sampai tulisan ini dipublikasikan, saya tidak menceritakannya kepada siapa pun. Hanya keluarga dan teman dekat yang tahu soal ini.

Alasannya sederhana sih. Seandainya waktu ikut program saya udah koar-koar lalu programnya gagal, nyesek dong. Kalau misalnya berhasil pun, belum tentu semua orang akan menyikapi dengan positif.

Maaf jika saya berpikiran negatif, tapi pasti ada orang yang menjudge ini itu terhadap saya dan suami. Saya malu apa kata orang nanti? Saya terlalu takut untuk berpikir, bagaimana jika mereka menganggap kami infertil? Masih muda kok udah ikutan bayi tabung? Padahal pikiran-pikiran itu belum tentu terjadi.

Perlahan saya menyadari bahwa ini bukanlah aib, tapi mukjizat yang nyata terjadi dalam hidup saya dan suami. Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya menanyakan kepada suami dan orang tua, bagaimana jika program bayi tabung yang kami ikuti saya ceritakan ke publik? Gayung pun bersambut, ternyata mereka mendukung keputusan saya. Jadi tulisan ini saya publikasikan atas ijin orang tua dan suami.

Kenapa akhirnya saya putuskan untuk bercerita?

Program bayi tabung adalah sesuatu yang awam bagi saya, dan mungkin juga bagi orang lain. Saya hanya sebatas tahu bahwa program bayi tabung adalah proses kehamilan yang terjadi secara in vitro, dimana sperma dan sel telur dipertemukan di luar rahim dengan bantuan ahli.

Saya pun nggak punya bayangan seperti apa proses yang harus ditempuh. Bahkan nggak pernah terbayangkan bahwa saya akan mengikuti program bayi tabung.
Bagi orang awam seperti saya, menjalani program bayi tabung sangat nggak mudah dan bisa dibilang penuh dengan tekanan. Tekanan itu berasal dari dalam diri sendiri, suami, keluarga, dan proses bayi tabung itu sendiri. Kira-kira bisa nggak ya saya menjalani ini sendiri? Dan tentu saja ada ketakutan bagaimana kalau gagal, padahal uang yang dikeluarkan juga nggak sedikit. Bagaimana jika nanti saya mengecewakan suami dan keluarga?

Tapi puji Tuhan dengan dukungan suami dan keluarga, akhirnya semua bisa saya lalui dengan baik dan lancar. Apa yang saya takutkan ternyata tidak terjadi. Keberhasilan dan kelancaran itu pun tak lepas dari peran pasutri yang bersedia menceritakan kepada kami pengalaman keberhasilan mereka mendapatkan bayi kembar lewat program bayi tabung.

Ketika berkaca dengan diri saya, saya merasa egois. Ketika saya diam, bagaimana jika diluar sana ternyata ada pasangan yang hendak mengusahakan kehamilan dan membutuhkan informasi?

Saya pun akhirnya merasa tidak bisa terus-menerus memendam apa yang telah saya lalui. Saya mengabaikan apa yang akan orang lain pikirkan tentang apa yang saya tulis saat ini. Karena akan selalu ada orang-orang yang pro dan kontra terhadap apapun yang kita lakukan.

Atas dasar itulah maka saya putuskan untuk menuliskan kisah saya saat ini, untuk membantu para wanita diluar sana yang mungkin sedang berusaha menjadi seorang ibu.

So, here is our story.

Saya dan suami menikah awal tahun 2014. Seperti pasangan lain yang baru aja menikah, doa yang diberikan adalah agar cepat punya momongan. Tentu saja kami juga nggak menunda untuk memiliki anak.

Karena teman saya dulu nggak banyak, jadi nggak banyak juga yang menanyakan "eh udah hamil belum?" Walaupun nggak banyak yang tanya, jujur pertanyaan tersebut jelas bikin baper. Rasanya kalau belum hamil itu belum sempurna jadi wanita. Yes, saya pun dulu merasa demikian.

Apalagi habis menikah kan saya langsung ikut suami ke Makassar, jadi di rumah bener-bener cuma berdua aja. Kalau suami kerja, bahkan seringnya pulang malam, saya bener-bener merasa sendirian. Tambah terasa bapernya.

Bersih-bersih rumah dan masak jadi rutinitas sehari-hari. Setelah selesai makan siang biasanya udah nggak ada kerjaan, jadi biasanya cuma nonton tv, main game, atau browsing. Bosan banget kan.

Kenapa kok nggak kerja aja? Sejak menikah memang saya memutuskan untuk nggak bekerja karena pekerjaan suami yang mengharuskan untuk dimutasi setiap 2-3 tahun. Apalagi nanti kalau punya anak, siapa yang ngurus anak kalau saya kerja?


Anjing dan Virus Toksoplasma

Kemudian, mungkin karena kasian sama saya yang kesepian, akhirnya suami beli anjing buat nemenin saya di rumah. Waktu itu dia belikan anjing dengan ras Siberian Husky tapi cuma bertahan 1 bulan aja, lalu meninggal. Kelihatannya waktu beli kami nggak teliti, ada bagian tubuhnya yang terluka.

Selang beberapa waktu, suami belikan anjing lagi, kali ini Pitbull. Sebenernya saya agak nggak sreg karena badannya besar, nggak cocok sama saya yang bertubuh mungil ini. Tapi ya udah lah nggak papa, minimal saya ada yang nemenin dan jagain di rumah.

Masalah lain pun muncul. Ternyata orang tua agak nggak setuju kalau kami pelihara anjing karena katanya saya bisa terkena virus Toksoplasma yang bikin susah hamil. Sejujurnya saya nggak 100% sependapat dengan hal ini.

Sepengetahuan saya, kucing adalah inang definitif dari virus Toksoplasma, yang artinya kucing menjadi tempat berkembang biak nya virus tokso. Nah, anjing dan hewan mamalia lainnya memang bisa tertular virus Toksoplasma ketika menjilat feses kucing yang terinfeksi atau anjing diberi makanan seperti daging mentah yang telah tercemar virus Toksoplasma.

Penularannya ke manusia juga bukan lewat udara, tapi sama seperti anjing, yaitu lewat feses kucing yang tidak sengaja masuk ke mulut atau karena makan daging yang tidak matang sempurna. Jadi intinya, penularan itu bisa diminimalkan ketika kita menjaga kebersihan diri dan hewan peliharaan, seperti cuci tangan tiap habis membersihkan kotoran hewan. CMIIW.

Waktu itu, saya jarang mengajak anjing saya jalan keluar rumah di pagi maupun sore hari. Misalnya pas sesekali keluar pun, ketika sampai rumah saya selalu cuci tangan. Kemudian, makanannya pun nggak pernah saya kasih daging mentah. Artinya, kemungkinan anjing saya tertular virus Toksoplasma pun rendah karena jarang kontak dengan lingkungan luar. Suami pun sependapat dengan saya.

Tapi, mama udah pengen punya cucu dan mertua juga udah pengen nambah cucu lagi. Kami pun menghargai keinginan dan kepedulian mereka. Harapan mereka sih kami nggak usah pelihara anjing dulu. Apalagi nanti kalau udah punya anak, siapa yang bakal ngurus anjing itu? Kemungkinannya pasti akan diserahkan juga ke orang lain yang bisa ngurus kan? Akhirnya waktu itu kami putuskan untuk menjual si anjing.


Ikut Program Hamil

Setelah anjing laku terjual, sekitar bulan Maret 2014 kami memutuskan untuk ikut program hamil karena sejak SMA sampai menikah saya memang punya riwayat haid yang nggak lancar. Bisa 3 bulan berturut-turut haid, kemudian 3 bulan  berikutnya bolong, sama sekali nggak haid.

Karena nggak tahu rekomendasi dokter kandungan yang oke di Makassar, akhirnya saya menanyakan ke teman asli Makassar yang sama-sama ikut Praktek Kerja Profesi Apoteker di RS Bethesda Yogyakarta dulu. Dia merekomendasikan dokter Effendi Lukas yang praktek di Jalan Serigala no.116, Makassar.

Ketika konsultasi saya menceritakan riwayat haid saya yang nggak lancar dan beliau melakukan cek secara intra vagina serta USG. Beliau cuma bilang ukuran telur saya normal, jadi saya diberi obat KB aja supaya haidnya teratur. Beliau juga menginstruksikan untuk berhubungan pada hari yang beliau tentukan, yaitu pada masa subur.

Kurang lebih selama 2-3 bulan saya mengikuti program hamil, haid udah lancar, tapi kok tetep aja belum hamil.  Tiap kali haidnya terlambat 2-3 hari langsung beli test pack, dan hasilnya selalu 1 garis aja. Sesekali saya pun menangis di depan suami dan merasa bersalah karena saya tak kunjung bisa memberinya momongan. Padahal dia udah pengen banget punya anak.

Ya memang untuk bisa hamil itu dipengaruhi banyak faktor sih ya. Salah satunya adalah suami dan istri nggak boleh stres. Kalau suami stres atau kelelahan bisa berpengaruh juga ke kualitas sperma. Makanan pun juga mempengaruhi. Tiap kali haid datang terlambat dan ngecek dengan test pack itu pun secara nggak sadar juga bikin saya stres karena mengharapkan suatu ketidakpastian.


Cek Kualitas Sperma

Akhirnya kami putuskan untuk ganti dokter lain di RS Siloam Makassar yaitu dokter Lenny Khosal dengan harapan kami bisa mendapat titik terang sebenarnya masalah kami berdua apa dan siapa tau kami bisa mendapat solusi yang berbeda. Kebetulan waktu itu pas jadwalnya haid dan cuma keluar flek aja selama 2-3 hari, tapi setelah itu nggak haid juga. Baca-baca artikel ada yang mengatakan itu bisa jadi flek tanda kehamilan akibat terjadinya implantasi (penempelan embrio) di rahim. Saya pun berharap semoga ini beneran hamil.

Saya sempat cek lewat test pack lagi sih, tapi hasilnya tetep 1 garis aja. Buat memastikan sekalian konsultasi akhirnya kami menemui dokter Lenny. Harap-harap cemas, dokter Lenny  mengecek lewat USG. Kata beliau nggak ada kantong embrio nya, tapi ada penebalan dinding rahim, jadi memang bentar lagi akan keluar haid. Ya Tuhan, nyesek lagi deh. :(

Kami kemudian menceritakan riwayat haid saya yang nggak lancar dan udah ikut program hamil tapi hasilnya masih nihil. Beliau lalu menyarankan suami untuk cek kualitas sperma. Karena kalau istrinya udah diberi terapi tapi ternyata suaminya yang bermasalah ya udah pasti nggak akan bisa hamil.

Tanpa menunggu lama, usai konsultasi kami langsung ke lab untuk cek sperma suami. Setelah selesai kami lalu pulang karena hasilnya baru bisa diambil esok hari. Tentu saja kami cemas bagaimana hasilnya, tapi kami yakin semua akan baik-baik aja.

Esok harinya, kami kembali ke RS Siloam. Ketika membuka hasilnya kami pun terdiam karena disitu tertulis Teratozoospermia. Kami langsung googling dan mencari tau apakah itu dan hasilnya cukup membuat kami kaget.

Teratozoospermia adalah kondisi dimana ditemukan banyak kelainan pada morfologi sperma abnormal atau banyak bentuk sperma yang tidak normal. Dengan kata lain sperma suami cacat. Ya, berdasarkan hasil lab jumlah sperma yang normal hanya 30%.

Kami berdua pun lemas. Walaupun suami berusaha terlihat tegar di depan saya, tapi saya tahu bahwa jauh di dalam hatinya dia sangat terpukul. Tak banyak yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Saya hanya bisa berkata semua akan baik-baik aja.


Konsultasi dengan Dokter Keluarga

Sepulang dari RS kami langsung menghubungi orang tua di Jogja. Awalnya mereka juga kaget mendengar hasilnya. Antara percaya dan nggak percaya, orang tua berusaha menenangkan kami dan menyarankan untuk konsultasi dengan dokter senior dan udah cukup terkenal di Jogja yaitu dokter Bharoto Winardi yang praktek di Apotek UGM dan RS Panti Rapih Yogyakarta. Pasalnya beliau juga udah menjadi dokter keluarga kami sejak lama, jadi hanya beliau yang bisa kami percaya.

Kami lalu segera mencari tiket untuk terbang ke Jogja dan mencari jadwal untuk segera bertemu dengan dokter Bharoto. Ketika konsultasi beliau langsung menyarankan kami untuk mengikuti program IVF (In Vitro Fertilization) atau bayi tabung aja. Karena IVF hanya memerlukan 1 sperma aja yang paling bagus. Jadi kalau sperma yang bentuknya normal hanya 30% pun nggak masalah karena nantinya hanya diambil 1.

Melihat kondisi kami berdua yang sama-sama infertil, sejujurnya kami bisa mendapatkan anak secara normal, yaitu dengan ikut terapi untuk memperbaiki kualitasi sperma dan dilanjutkan dengan program hamil. Tapi hasilnya nggak bisa diprediksi, bisa cepat atau lambat.

Daripada buang-buang uang untuk terapi dan program hamil yang kita nggak tau kapan akan berhasil, menurut beliau lebih baik kami ikut program bayi tabung aja kalau memang udah kebelet pengen punya anak. Pertimbangan lainnya adalah keberhasilan bayi tabung semakin tinggi kalau umur kita masih di bawah 30 tahun karena masih dalam usia produktif. Dan dengan kondisi kami berdua beliau menjamin keberhasilannya 70%.

Di dalam ruangan dokter, sejenak kami berdua saling berpandangan dan mendengarkan penjelasan dokter dalam diam. Saat itu juga banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala. Apa yang harus saya dan suami lakukan? Apakah kami harus mengikuti saran dokter atau ikut terapi aja?

Bukan perkara mudah untuk memutuskan hal ini karena saya dan suami nggak punya bayangan apapun tentang bayi tabung dan tentu saja rupiah yang dikeluarkan nggak sedikit. Lagipula pernikahan kami baru seumur jagung, apakah bukan keputusan yang terburu-buru jika kami memutuskan untuk ikut program bayi tabung?

Setelah berpikir matang dan mendiskusikannya dengan mama dan mertua, akhirnya kami putuskan untuk mengikuti saran dokter. Pertimbangannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh beliau. 

1. Saya dan suami udah pengen banget punya anak, begitu pun dengan mama dan mertua yang pengen punya cucu. 

2. Kami nggak tau kapan akan berhasil kalau ikut terapi sperma dan program hamil, bisa 1 tahun, 3 tahun, atau lebih. Waktunya nggak bisa dipastikan. 

3. Saat itu umur saya masih 26 tahun, kami berharap semakin cepat kami melakukan program bayi tabung maka keberhasilan akan makin tinggi.


Di luar sana tidak sedikit pasangan suami istri yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi, yang mungkin belum terdeteksi atau memang diabaikan. Apapun masalahnya, kalau temen-temen saat ini belum dikaruniai anak dan udah pengen banget punya anak, pertimbangkanlah hal ini:

1. Konsultasi ke dokter
Kalau ada yang nggak beres dengan kesehatan reproduksi, segera konsultasi dengan dokter yang bisa dipercaya. Semakin cepat diketahui penyebabnya maka akan bisa segera ditangani.

2. Ikuti kata hati dan tanpa paksaan
Pastikan keinginan punya anak dan keinginan menjalani terapi berasal dari diri sendiri, bukan paksaan dari pasangan maupun orang tua. Karena dengan keinginan yang teguh, tentunya kita juga akan menjalani terapi dan program dengan senang hati.

3. Allah yang memberi kuasa
Kalau setelah konsultasi dengan dokter ternyata kondisi suami dan istri sama-sama normal dan sehat tapi tak kunjung diberi momongan, percayalah bahwa waktuNya adalah yang paling tepat.


Setiap pasangan pasti memiliki pilihan dan keputusannya masing-masing. Setiap keputusan juga pasti punya konsekuensinya masing-masing. Jalan yang kami pilih menurut kami adalah yang terbaik, namun dengan kondisi medis yang sama mungkin belum tentu yang terbaik pula bagi pasangan lain.

Jangan berhenti berharap, karena Allah bekerja dengan caraNya yang ajaib. 

Tetaplah berusaha dan berdoa yaa.

***

Review lengkap proses bayi tabung silakan baca di bawah ini :

Baca : Proses Bayi Tabung di RS Siloam Surabaya

36 komentar :

  1. Speechless...sungguh panjang yaa perjalanan pada keputusan bayi tabung. Suami pasti kaget banget, ego pria kan jauh lebih besar dari kita. Tapi dia berusaha tegar. Salut!

    Waaah Siberian Husky itu yg kayak srigala itu kan? lucunyaaa. Sayang udah meninggal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, huhu..thanks yaa
      Iya siberian itu yang kayak serigala, kasian deh, waktu itu abis dimandiin juga sih. Sehari setelah dimandiin besoknya muntah2, ga lama terus meninggal, hikss

      Hapus
  2. Ditunggu cerita lanjutannya ya mbak.

    Betul banget..Setiap pasangan pasti memiliki pilihan dan keputusannya masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, beberapa hari lagi akan aku lanjutkan ceritanya..trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  3. Iya niy, namanya bayi tabung, tetep aja ya semuanya di tangan Yang Di Atas, namanya udah usaha pengen punya anak. Ga sabar nunggu prosesnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, krn ada juga yg sama2 normal suami istri, ikut bayi tabung, tapi gagal. Kalo Allah ga mengijinkan juga ga bakal jadi, semuanya seijin yang di Atas 🙏🏻

      Hapus
  4. Hai mba saya juga punya teman yang juga melalui proses bayi tabung, sy sempat menemani saat dia kontrol k dokter, panjang prosesnya dan Alhamdullilah berhasil.. terus sabar, terus semangat, jangan berhenti berharap serta percaya tuhan selalu bekerja dengan caranya yang ajaib, :)..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oyaa? Ikut seneng ya mba ngeliatnya
      Betull, Tuhan bekerja dengan caraNya yang kadang di luar nalar kita

      Hapus
  5. Salut dengan Mbak dan suami..kompak dan semangat..tetap berusaha dan berdoa dan percaya akan Kuasa-Nya..
    Ditunggu kelanjutan ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba dian udah mampir 😊🙏🏻 Siapp mba, beberapa hari lagi akan aku lanjutkan ceritanya

      Hapus
  6. Balasan
    1. Kurang lebih sih 50-60jt ya mba sama biaya hidup dan obat-obatan. Di artikel selanjutnya akan aku ceritakan tentang proses dan biayanya

      Hapus
  7. gimana gimana lanjutannya? saya dulu sempat mau memutuskan bayi tabung tapi nggak punya uang x)). proses apa aja yg perlu dilakukan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? dokter ga menyarankan cara lain dulu mba sebelum bayi tabung?
      Proses dan biaya nya akan aku jelaskan di artikel selanjutnya ya mba, trims udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
    2. Bagaimana dengan proses inseminasi/iui mbak Nengbiker? Yang pernah saya baca biayanya jauh lbh murah dr ivf. Kami juga sedang mencoba dengan metode iui ini.

      Hapus
  8. menunggu kelanjutan ceritanya.
    plus kisaran biayanya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp mba, di artikel selanjutnya akan aku jelaskan ya. Trims udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  9. Salam kenal mbak, aku pun pernah nulis di blogku tentang program hamil dengan minum obat penyubur buat suami istri dan dengan rangkaian tes ini itu, 2016 lalu sudah mencoba juga inseminasi dengan tablet dan suntikan penyubur, tahapannya ketika udah 3x inseminasi baru ke program bayi tabung, kami menikah udah hampir 9 tahun, saya dan suami tahun ini sudah nhoba lagi dengan program alami tablet penyubur saja belum berhasil, untuk mencoba lagi inseminasi kami baru menabung dulu, kalau bayi tabung jalan terkahir kami, setelah kami nanti ibadah haji, boleh baca balik di blogku mvak, siapa tahu bisa saling tukar informasi 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oo gitu, penantian panjang ya mba. Ok nanti saya tengok blog mba vita ya, tetep semangat dan berusaha mba. Trims udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  10. Peluk buat, Mbak Inge.
    Satu tahun lalu aku menjalani bayi tabung kedua aku, Mbak. Meski berujung kembali gagal.��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kah mba? Peluk mba dian jugaa ❤️
      Kapan2 kita sharing2 yaa mba. Tetep semangat dan berusaha 💪🏻

      Hapus
  11. Jalan panjang ya mbak perjuangannya buat dapet momongan. Tetep semangat mbak Inge. Saya ikut mendoakan. Salam hangat dari Bengkulu

    BalasHapus
  12. Terharu baca ceritanya mbak. Cant wait for your good news. Semangat selalu buat mbak Inge dan suami.Salam kenal. Dede

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you mba dede, nantikan tulisanku selanjutnya yaa mba. Trims udah berkunjung, salam kenal juga mba 😊🙏🏻

      Hapus
  13. Kdg aku bingung, kenapa malah org yg ga pgn punya anak, malah diksh cepet, sementara yg pgn kok ya susah dapetnya :(. Aku termasuk ga pgn punya anak mba, tp akhirnya ngalah krn suami pgn. Jujurnya aku memang ga suka anak kecil. Tapi krn udh telanjur dikasih, ya sudahlah.. Cuma ya itu, aku jd mikir kenapa org yg malah pengeeen bgt punya, malah diksh ujian macem2.

    Anak buahku di kantor beberapa org blm punya anak stlh lama nikah. Yg 1 nya malah baru2 ini program hamil , salahnya dgn cara hidrotubasi. Dan dia cerita td, rasanya itu sakiiiiit banget. Aku sampe ngilu :( .. Semoga program bayi tabung mba, juga anak ku di kantor berhasil yaaa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sama, di kantor suami ku juga ada yang gitu. Yang ga pengen dikasinya cepet, yang pengen dikasinya lama. Ya mungkin itu memang cara Tuhan supaya kita naik kelas ya mba.

      Yang ga pengen dan dikasi cepet, mungkin disuruh belajar momong anak, belajar sabar sama anak.

      Yang pengen dan belum dikasi, disuruh belajar sabar menanti dan berusaha, mungkin Tuhan kasi berkat lewat yang lainnya.

      Hapus
  14. Saya nimbrung ya mbak Fanny. Saya juga kdg mempertanyakan itu. Kebetulan di tmpt kerja ada anak magang yang umurnya 21 dan hamil diluar keinginan. Sedangkan yg lainnya benar benar ingin, tp blum juga datang. Hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba dede, masing-masing diberi ujian kesabaran lewat cara yang berbeda ya

      Hapus
  15. Mba inge, luar biasa perjalanannya.. Salut mbak atas keputusannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba ❤️ Trims juga udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  16. Untunglah waktu itu akar permasalahnnya langsung ketahuan ya Mbak. Jadi bisa langsung ambil tindakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba memang lebih baik segera periksa, biar ketauan masalahnya
      Trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  17. halo mbak inge salam kenal. saya ikut nimbrung gegara postingan mbak inge tentang funfact film horor. eh tertarik sama cerita mbak ttg IVF.. umur pernikahan kita sama mbak.. saya juga belum dikasih karunia Tuhan berupa momongan. jujur speechless ketika baca tulisan ini mbak.. namanya ikhtiar beragam juga. Semoga dengan cara bayi tabung, mbak inge dan suami segera dikaruniai mbak.
    btw jadi merasa stuck, karena ikhtiar kami(saya&suami) belum maksimal :(. semnagat mba!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii mba, salam kenal kembali
      Ya memang rencana Allah kita ga tau ya mba, ada yg udah pengen punya anak, tp belum dikasih. Ada yg belum pengen, malah dikasih.
      Sabar melewati ujian kesabaran ini ya mba, mungkin Allah mau mengingatkan bahwa ada rejeki lain selain anak yg perlu disyukuri 😊
      Semoga apapun usaha yang mba dan suami sedang lakukan dilancarkan dan dimudahkan yaa 🙏🏻

      Hapus
  18. Halo kak Inge, salam kenal :)
    Asal klik aja, trus bisa kesini heheh.

    Aku sih ga berkomentar apa2 krn bukan ranahku dan bukan masaku juge sih hehe. Cuma mau menyampaikan terimakasih krn sudah berbagi pengalaman :) saya jadi lebih tahu ttg bayi tabung, dan hal2 psikologis yg dibelakangnya.

    BalasHapus