SOCIAL MEDIA

Minggu, 22 Oktober 2017

Proses Bayi Tabung di RS Siloam Surabaya


Sesuai janji saya, di artikel ini akan saya bahas proses lengkap bayi tabung di RS Siloam Surabaya, mulai dari penginapan, kos, makanan khusus buat ibu yang ikut bayi tabung, dan tahapan apa aja yang harus dilalui dalam mengikuti program bayi tabung beserta rincian biayanya.

Sebelumnya udah saya jelaskan ya alasan saya dan suami mengikuti program bayi tabung, dengan berbagai pertimbangannya. Buat yang belum baca, silakan baca di bawah ini ya :


Dokter Bharoto merekomendasikan RS Siloam Surabaya untuk melakukan program bayi tabung. Alasannya adalah karena di RS Siloam Surabaya tingkat keberhasilan bayi tabungnya cukup tinggi dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan RS di tempat lain seperti Jakarta dan Malaysia.

Selain itu, Inul Daratista dulu juga berhasil  melakukan bayi tabungnya di RS Siloam Surabaya tahun 2009 lalu. Jadi lumayan bikin RS Siloam yang terletak di Jalan Raya Gubeng no.70 ini terkenal sebagai tempat bayi tabung.

Tim dokternya ada 3 ya :
1. Dokter Aucky Hinting, Spesialis Andrologi
2. Dokter Hamdani Lunardi, Spesialis Andrologi
3. Dokter Hendro, Spesialis Kebidanan dan Kandungan


Bertemu dengan konsultan dokter Bharoto

Sebelum kami bertanya macam-macam, beliau menyarankan kami untuk bertemu dengan salah satu pasien beliau, sebut saja ibu A, yang juga mengikuti program bayi tabung di RS Siloam Surabaya dan berhasil mendapatkan anak kembar.

Sepertinya ibu A ini udah sering melayani pasien-pasien dokter Bharoto yang hendak bertanya tentang program bayi tabung, karena dokter Bharoto juga menyebutnya konsultan beliau.

Singkat cerita, kami lalu janjian dengan ibu A. Ibu A dan suami udah cukup lama belum dikaruniai anak, tapi saya lupa persisnya berapa tahun. Kondisi mereka hampir mirip dengan kami. Kualitas sperma suaminya juga nggak bagus, pernah ikut terapi untuk memperbaiki kualitas sperma juga, kemudian baru ikut program bayi tabung pada usia kurang lebih 35 tahun dan berhasil mendapatkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.

Waktu kami kesana, anak-anaknya udah berumur kurang lebih 3 tahun. Sambil menemani anak-anaknya bermain, ibu A meladeni pertanyaan saya tentang apa aja yang harus dipersiapkan dan bagaimana tahapan yang akan saya jalani.

Penjelasan dari ibu A sangat lengkap sehingga saya dan suami pun lebih bisa membayangkan apa yang harus kami persiapkan dan kami hadapi esok. Mereka pun mendukung kami untuk segera ikut program bayi tabung mumpung masih muda. Karena pengalaman mereka sendiri ikut terapi sperma cukup lama tapi nggak berhasil dan akhirnya harus ikut bayi tabung juga.

Merasa udah cukup mengumpulkan informasi dan mempersiapkan mental, akhirnya kami kembali ke Makassar dan menjalani rutinitas seperti biasa. Sebelum berangkat ke Surabaya saya udah harus tes TORCH dulu, begitu instruksi dari dokter Bharoto. TORCH kepanjangan dari Toxoplasma gondii, Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), dan Herpes Simplex.

Tes TORCH ini penting ya, baik mau hamil normal maupun bayi tabung. Kalau kita ada nilai positif hasil tes TORCH nya nanti bisa menyebabkan cacat pada janin yang kita kandung. Waktu itu saya tes di Prodia Makassar, biayanya sekitar 2,5 juta rupiah. Dan puji syukur hasilnya baik semua.

Oya sebelumnya ibu A udah mengingatkan bahwa kami harus udah sampai di RS Siloam Surabaya saat haid hari ketiga. Jadi minimal haid hari pertama kami udah ada di Surabaya. Alasannya adalah haid hari ketiga itu adalah waktu yang paling pas untuk mengukur sel telur, apakah udah siap untuk ikut program.

Saya udah tahu kalau haid akan datang pertengahan bulan. Dan bener sekitar tanggal 15 Juni 2014 udah mulai keluar flek. Saya langsung telpon mertua dan cari tiket pesawat ke Surabaya. Yang menemani saya dan suami ke Surabaya adalah mertua karena mama saya kerja dan nggak bisa cuti. 


12 Juni 2014

Pagi-pagi saya dan suami terbang ke Surabaya, sementara mertua berangkat ke Surabaya naik mobil dari Jogja. Nggak lupa hasil cek lab sperma suami dan riwayat program hamil di Makassar saya bawa semua.

Berbekal info dari ibu A kami mencari penginapan sederhana yang nggak jauh dari RS Siloam Surabaya, namanya Pondok Asri. Dulu ibu A dan suami juga menginap disini sebelum ikut program, katanya tempatnya recommended, sederhana, bersih, pas di kantong dan relatif dekat ke RS Siloam.

Kenapa cari yang sederhana dan dekat? Nanti kalau udah positif ikut program kita pasti pindah penginapan lagi, atau lebih tepatnya kos, karena kita harus stay di sini selama 2 bulan. Kita juga butuh bolak balik ke RS jadi jangan cari penginapan yang jauh.


Sampai di penginapan, tempatnya memang oke, sederhana tapi bersih, mirip losmen atau hotel bintang tiga gitu. Tarif per malamnya sekitar Rp 300.000,-. Sayang saya nggak foto-foto kamarnya waktu itu.

Hari itu kami nggak ngapa-ngapain, cuma ke RS bentar buat daftar konsultasi dengan dokter besok.


13 Juni 2014

Agenda kami adalah konsultasi dengan dokter Aucky untuk melihat apakah kami bisa langsung mulai program bayi tabung. Sebelumnya oleh dokter Hendro saya diperiksa lewat USG intra vagina untuk melihat kondisi sel telur dan rahim. Padahal hari itu masih keluar flek aja, haidnya belum lancar. Cemas juga kira-kira nanti bisa langsung lolos untuk ikut program nggak ya.

Hasil USG dari dokter Hendro kemudian kami bawa ke dokter Aucky, kata beliau kami belum bisa langsung mulai program. Bener kan feeling saya, sedih juga kalau harus balik dulu ke Makassar, berat di ongkos. Harapannya kan sekali datang kami bisa langsung mulai.

Akhirnya kami balik ke penginapan, nggak lupa saya beli Kiranti dulu 2 botol buat saya minum siang dan malam. Iya dulu kalau haidnya nggak lancar saya kadang minum Kiranti lalu bisa lancar haidnya.

Malamnya saya berdoa supaya besok pagi haid bisa keluar banyak. Kalau sampai nggak keluar beneran nyesek deh.


14 Juni 2014 (hari USG pertama)

Thanks to Kiranti, pagi itu haid udah lancar dan banyak keluarnya. Langsung cepet-cepet ke RS buat daftar konsultasi dengan dokter Aucky lagi. Sebelumnya tetep harus diperiksa sama dokter Hendro dulu ya, lalu hasilnya dibawa ke dokter Aucky.

Setelah melihat hasil lab sperma suami dan hasil USG saya saat itu, puji Tuhan kata beliau saya dan suami udah bisa mulai program saat itu juga. Selain itu, suami juga nggak perlu terapi sperma dulu, pertimbangannya dengan jumlah sperma normal 30% aja udah cukup untuk ikut program.

Bersyukur banget ya karena ada juga suami yang nggak bagus kualitas spermanya dan harus terapi sperma dulu, otomatis nggak bisa langsung mulai program bayi tabungnya.

Ini adalah planning program bayi tabung dari dokter Aucky buat saya dan suami. Biaya untuk proses bayi tabungnya aja kurang lebih 26-29 juta rupiah ya, belum termasuk obat hormon dan biaya lain-lain.


Kira-kira lihat gambarnya ngerti nggak? Saya awalnya juga nggak paham, hehe. Tapi di bawah ini saya coba bantu jelaskan lewat poin-poin sesuai tanggal yang tercantum di gambar.


Beda IVF dan ICSI

Nah di artikel sebelumnya kan saya bilang bahwa bayi tabung itu nama kerennya IVF (In Vitro Fertilization). Awalnya saya ngertinya kalau bayi tabung yang sperma nya ditemukan dengan sel telur di luar rahim itu ya namanya IVF. Ternyata bayi tabung sendiri ada 2 metode, yaitu IVF dan ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection).

Bedanya, kalau IVF itu sperma nya masih bisa berenang menuju sel telur sendiri. Kalau ICSI cuma butuh 1 buah sperma aja lalu disuntikkan ke sel telur. Jadi ICSI ini cocok untuk pasien dengan jumlah sperma normal yang sangat sedikit.

Mempertimbangkan kondisi sperma suami, makanya dokter Aucky menginstruksikan kami untuk ikut prosedur ICSI aja.

Kesan saya 2 kali ketemu dan konsultasi dengan dokter Aucky,  beliau agak terburu-buru dalam menjelaskan pada pasien. Ya saya maklum sih, soalnya antrian pasien nya emang banyak banget.

Saya konsultasi dengan dokter Aucky 2 kali itu aja, setelah itu kontrol berikutnya sampai selesai program semuanya dengan dokter Hamdani. Kalau dokter Hamdani menurut saya lebih ramah dan komunikatif.

Dokter Aucky memang kepala tim nya ya, tapi baik dokter Aucky maupun dokter Hamdani sama-sama berkompeten kok, jadi it's ok.


Cari Kos dan Catering

Karena udah positif bisa mulai program, siangnya saya cari penginapan untuk kos selama 2 bulan. Sebenernya nggak susah ya untuk cari kos di sekitar RS karena banyak penduduk di dekat situ yang menyewakan kamarnya untuk kos.

Tujuan pertama saya waktu itu adalah komplek di samping RS Siloam yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di situ saya mampir ke rumah kos bertuliskan Graha Sapudi. Rumahnya bagus dan fasilitasnya juga cukup oke dengan harga yang sepadan. Tapi sayangnya saat itu kamar kos nya penuh.


Kemudian saya berkeliling naik mobil sambil nyari kos yang nggak terlalu jauh dari RS, tapi kebanyakan udah penuh. Akhirnya sampai lah saya di sebuah penginapan namanya Hotel Jawa yang terletak di Jalan Jawa no. 22. Bentuk hotelnya ini memang nggak seperti hotel pada umumnya ya, karena suasananya rumah banget kayak kos-kos an. Harga sewa kamar per bulan nya waktu itu kalau nggak salah inget sekitar 2 juta rupiah.

Fasilitas kamarnya cukup oke ya, ada TV, AC, kasur, lemari, teras balkon buat jemur handuk, kulkas kecil, dan ada air hangat di kamar mandi nya. Untuk kebersihannya kita bisa panggil petugas cleaning service hotel untuk membersihkan kamar dan kamar mandi. Biasanya saya kasih tip Rp 10.000-20.000,-.

Selama 2 bulan di kos, suami, mama dan mama mertua gantian nemenin saya. Tapi mereka juga nggak bisa lama-lama ya, paling masing-masing cuma 3-5 hari aja.




Nah, kebetulan saat itu di resepsionis saya ketemu dengan Ibu Dini yang ternyata melayani catering untuk ibu-ibu yang ikut program bayi tabung. Karena kan bingung juga ya selama 2 bulan mau makan apa dan dimana, beli di luar juga belum tentu sehat, dan nggak ada kendaraan pula.

Pas banget ketemu Ibu Dini karena catering ini non MSG dan memang khusus untuk program bayi tabung. Kenapa catering ini khusus untuk program bayi tabung? Karena kita ikut program jadi asupan gizi nya juga harus dijaga ya. Yang bikin spesial adalah menunya.


Menu makannya lengkap dan porsi makannya besar banget ya kalau buat saya. Biasanya kalau diantar pagi jam 7, saya makan 2 kali buat pagi dan siang. Kemudian yang diantar sore jam 3 saya makan 2 kali juga buat sore dan malam.

Kalau pagi ada tambahan telur ayam kampung rebus 6 butir dan air kacang hijau, kalau sore tambahannya jus wortel / apukat. Telur ayam kampung ini penting ya untuk nge-boost ukuran sel telur kita selama program nanti. Tapi lumayan mbelenger juga ya makan 6 butir telur tiap hari. Biar nggak terlalu eneg, saya makan telurnya 3 kali, pagi siang dan malam, sekali makan 2 butir. Kemudian biar kolesterol nya nggak tinggi, saya makan putihnya aja, kuningnya biasanya 1 butir aja saya makan tiap harinya.




Jadi bisa dibayangkan kan kerjaan saya di kos makan terus? Hehe

Harga catering per harinya adalah Rp 85.000,-. Awalnya saya ngerasa agak pricey ya, tapi ternyata menunya memang lengkap dan bergizi, jadi worth it lah ya harga segitu.

Kalau nggak mau catering juga nggak apa-apa kok, yang penting yang kita makan harus tinggi protein buat nge-boost ukuran sel telur kita.


15 Juni 2014 (hari pertama suntik Gonal F2)

Sesuai planning dokter Aucky di atas, saya diberi suntikan obat hormon selama 8 hari berturut-turut pada jam yang sama di pagi hari dengan dosis 1 ampul. 1 ampul harganya Rp 600.000,- ya. Suntiknya di perut dan nggak terasa sakit. Perawatnya juga ramah-ramah jadi kita juga nyantai.

Dosis suntiknya ini bisa beda-beda ya tiap orang, tergantung kondisi pasien masing-masing. Ada juga yang dosis awalnya udah 2 ampul.

Kalau males bolak balik ke RS buat suntik, kita bisa bawa suntikannya ke rumah dan suntik sendiri pada jam yang sama tiap harinya. Karena waktu itu ada barengan saya orang asli Sidoarjo, dia bawa pulang suntikannya dan suntik sendiri di rumah.


20 Juni 2014 (hari USG kedua, hari keenam suntik)

Tanggal 20-22 dosis suntiknya ditingkatkan jadi 2 ampul. Hari keenam ini di USG lagi untuk dicek ukuran sel telur nya udah berapa mm. Saya lupa saat itu berapa diameternya, tapi sel telur yang layak diambil itu diameternya 17-22 mm.

Sayang hasil USG nya saya tinggal di Jogja semua, jadi nggak bisa saya upload.


23 juni 2014 (hari USG ketiga, suntik pecah telur)

Hari itu adalah hari USG terakhir untuk melihat ukuran sel telur. Kemudian saya disuntik pecah telur supaya lusa telurnya siap diambil. Biayanya 1,8 juta rupiah dan suntiknya dipantat, yang ini lumayan sakit ya rasanya, hehe.


25 Juni 2014 (OPU)

Setelah selesai suntik selama 8 hari, tahap selanjutnya adalah OPU (Ovarium Pick Up). Untuk tahap ini malamnya harus puasa dulu 8 jam sebelum jam jadwal kita dipanggil.

Selama proses OPU, suami dipanggil ke ruangan lain untuk pengambilan sperma nya.

Saat masuk ke ruangan eksekusi, saya wajib ganti baju biru yang bagian belakangnya bolong ala pasien RS yang mau operasi. Prosesnya kayak kita USG intra vagina. Kaki ngangkang ke atas, tangan kanan dan kiri diiket biar kita nggak gerak saat pengambilan sel telur. 

Di tangkai alat USG nya kayak ada jarum buat nyedot sel-sel telur kita. Waktu penyedotan rasanya kayak disuntik di bagian dalam, agak nyeri sedikit tapi nggak sakit kok. Dan total sel telur yang diambil ada 9 telur.


30 Juni 2014 (ET)

Proses selanjutnya adalah ET (Embrio Transfer). Dari 9 telur yang diambil kemarin ternyata baru ada 2 embrio yang jadi dengan kualitas good-excellent. Jadi hari itu di dalam rahim saya ditanam 2 embrio.

Sebelum proses ET dimulai, kira-kira 1-2 jam sebelumnya saya diwajibkan minum air putih yang banyak. Katanya sih biar nanti pas embrio nya masuk bisa kelihatan jelas. Dulu saya minum 1 botol air mineral 600ml, yang buat saya itu udah banyak banget. Sialnya, pas giliran saya dipanggil, udah ganti baju yang belakangnya bolong kayak buat operasi, eh saya tetep masih disuruh nunggu.

Padahal ruangannya dingin banget, kayak di kamar operasi gitu. Astaga, saya nunggu sampai udah kebelet pipis loh, hahaha. Padahal pas itu belum dipakein pampers. Tapi untung saya nggak ngompol di situ.

Proses ET mirip seperti OPU dan nggak sakit sama sekali ya. Dengan posisi mau USG seperti biasa, ke dalam vagina dimasukkan alat seperti selang. Dari selang tersebut kedua embrio tadi meluncur masuk ke rahim saya, dan selama proses masuknya itu saya bisa lihat di layar monitor. Para perawat bantuin saya untuk melihat 2 embrio yang berenang di rahim saya, tapi waktu ditunjukin saya nggak begitu jelas karena kayak titik kecil banget.


The Hardest Process

Setelah selesai saya dibawa ke ruang rawat inap yang isinya 3 orang. Di samping kanan saya juga pasien bayi tabung, sementara di samping kiri saya pasien rawat inap biasa.

Kemudian saya dipakaikan pampers sama perawatnya dan katanya kalau mau pipis, pipis di pampers aja. Karena saya diharuskan berbaring selama 5 jam, tapi dengan posisi kasir dibuat kaki lebih tinggi dari badan saya. Bisa dibayangkan kasurnya miring 45 derajat dengan posisi kepala lebih rendah.

Selang 2 jam muncul lah rasa kebelet pipis. Dan seperti yang dibilang orang-orang rasanya susah dan nyeri. Karena kita kan udah terbiasa pipis di toilet ya, sekarang disuruh pipis di pampers, dengan posisi yang nggak lazim pula, pipisnya nggak bisa keluar.

Tapi sebetulnya sakit atau nggak, susah atau gampang itu relatif ya. Soalnya temen kos saya gampang keluar tuh katanya, nggak sakit sama sekali. Terus pasien bayi tabung yang di sebelah saya juga gampang pipis nya. Mungkin karena saya udah nahan pipis lama, jadi rasanya sakit campur aduk kayak anyang-anyangan gitu.

Waktu itu saya sampai minta ijin perawatnya untuk turun dari kasur dan pipis sambil berdiri. Tadinya mau maksa jongkok, tapi nggak boleh. Ya udah, saya paksain pipis sambil berdiri walaupun sakit banget rasanya sampai nangis.

Setelah selesai berbaring selama 5 jam boleh langsung pulang.


2 dan 6 Juli 2014

Pasca proses ET saya nggak boleh capek-capek, jalan-jalan, dan olah raga. Jadi kerjaannya ya cuma mondar-mandir di dalem kamar aja, atau nonton tv di kasur. Saya juga dikasih obat penguat kandungan namanya Crinone yang dimasukkan lewat vagina tiap hari. Kemudian tanggal 2 dan 6 Juli harus balik ke RS buat suntik penguat rahim.


10 Juli 2014 (Cek HCG)

Hari itu waktunya buat cek hormon HCG (Human Chorionic Gonadotrophin), yaitu hormon peptida yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan.

Kalau kita ngetes hamil atau nggak pake test pack itu yang diukur juga kadar HCG nya. Tapi waktu itu saya ngetesnya nggak pake test pack, tapi diambil darahnya jadi keliatan kadarnya berapa. 

Puji Tuhan waktu itu kadar HCG saya sekitar 180 mIU/ml, yang artinya saya positif hamil!

Kabar gembiranya lagi, ternyata ada 3 embrio lagi yang jadi dengan kualitas good-excellent, jadi kami putuskan untuk disimpan aja supaya nanti bisa ditanam saat mau hamil lagi. Penyimpanan maksimal selama 5 tahun dan kita wajib bayar biaya penyimpanannya per tahun sebesar Rp 1.000.000,-.


24 Juli 2014 (USG kantong embrio)

Setelah positif hamil, belum bisa langsung pulang ya. 2 minggu sejak tes HCG harus USG dulu untuk melihat ada berapa kantong embrio yang jadi. Pas ET kan ada 2 embrio yang ditanam di rahim saya. Ternyata yang jadi cuma 1.


7 Agustus 2014 (USG denyut jantung)

2 minggu sejak USG kantong embrio, waktunya buat mendengar denyut jantung anak saya untuk pertama kalinya. Rasanya? Campur aduk antara seneng, terharu, dan merasa ajaib ada kehidupan yang tumbuh di rahim saya.

Sebelum pulang saya dan suami ketemu dulu dengan dokter Hamdani, dan beliau menyarankan transportasi yang paling aman untuk balik ke Jogja adalah menggunakan kereta api yang minim guncangan dibanding pesawat dan mobil.


15 Agustus 2014 (pulang ke Jogja)

Selama seminggu sejak USG denyut jantung saya menyelesaikan administrasi rumah sakit dan membereskan kamar kos. Mungkin ada yang bertanya kenapa saya balik Jogja, nggak ke Makassar ikut suami. 

Pertimbangannya waktu itu kalau ke Makassar kan harus naik pesawat, rawan karena guncangannya sangat terasa. Lagipula ini kan hamil pertama yang diperoleh dengan perjuangan, kalau ke Makassar besok pas suami pulang malam saya kan di rumah sendirian sepanjang hari. Kalau ada apa-apa nggak ada yang nolongin. Jadi kami putuskan saya tinggal di Jogja aja karena ada orang tua.

Tapi kalau memang tinggalnya di luar pulau Jawa, kayak temen sebelah kamar kos saya yang tinggal di Kalimantan, tetep konsultasi dulu dengan dokter Hamdani. Ada yang boleh langsung naik pesawat, tapi ada juga yang disarankan untuk stay dulu beberapa minggu di Surabaya sampai usia kandungan kuat, baru boleh naik pesawat. Jadi beda-beda tiap orang tergantung kondisinya masing-masing.


Nah berikut ini saya rangkum poin penting apa aja yang harus diperhatikan sebelum mulai program bayi tabung :

1. Cek TORCH sebelum ikut program
2. Bawa hasil lengkap pemeriksaan suami istri dan atau riwayat pengobatan sebelumnya
3. Istri wajib stay di Surabaya selama kurang lebih 2 bulan. Suami hanya dibutuhkan buat setor sperma aja pas OPU
4. Cari kos yang dekat atau bisa ditempuh dengan jalan kaki. 

Kenapa cari yang dekat? Karena selama 2 bulan kita sering bolak balik ke RS. Kalau kos kita jauh, pasti berat di ongkos, capek di jalan juga.

Sebenernya Hotel Jawa itu letaknya di seberang RS Siloam, temen sebelah kamar saya biasanya jalan kaki. Tapi suami nggak ngebolehin saya jalan karena kan harus nyeberang jalan besar. Apalagi nanti kalau udah positif hamil kan jalannya juga harus hati-hati banget. Jadi suami mewajibkan saya naik taksi.

Waktu itu saya kemana-mana naik taksi Orenz. Tinggal reservasi aja via telpon  031 2981999 mau dijemput jam berapa, biasanya taksi akan datang on time karena ada beberapa taksi yang memang mangkal di RS Siloam. Taksinya juga pakai argo, biasanya saya kalau ke RS argo nya Rp 10.000,- aja. Jadi pulang pergi kurang lebih Rp 20.000,-.


Ini estimasi biaya saat tahun 2014 ya. Tiap tahun pasti ada penyesuaian. Ringkasan biaya yang diperlukan :

Cek TORCH : Rp 2.500.000,-
OPU dan ET : Rp 19.000.000,-
Kos 2 bulan : Rp 4.000.000,-
Catering 2 bulan : Rp 85.000 x 60 hari : Rp 5.100.000,-
suntik Gonal F2 selama 8 hari : Rp 600.000 x 11 : Rp 6.600.000,-
Biaya kamar selama 5 jam setelah ET : Rp 190.000,-
Suntik pecah telur : Rp 1.800.000,-
6x USG : Rp 100.000,- x 6 : Rp 600.000,-
Biaya simpan embrio tahun pertama :  Rp 1.000.000,-
Biaya taksi 2 bulan : Rp 300.000,-
Biaya tambahan : biaya cek darah, kebutuhan pribadi selama 2 bulan dll.
Biaya lain-lain menyesuaikan, misalnya transportasi bolak-balik (tiket pesawat/kereta api) suami atau keluarga lain yang menemani

Totalnya minimal Rp 40.000.000,-


FYI, sekarang dokter Aucky dan tim udah nggak melayani program bayi tabung lagi di RS Siloam Surabaya ya karena sejak 2016 udah pindah ke klinik milik dokter Aucky sendiri yaitu RSIA Ferina di Jalan Irian Barat no. 7-11 (Telp 031 5057557). Lokasinya juga cukup dekat dari RS Siloam kok.


Well, demikian cerita pengalaman saya ikut bayi tabung di RS Siloam Surabaya. 

Sharing is caring ❤

54 komentar :

  1. Mbak Inge...salut banget dengan perjuangan Mbak, Suami dan keluarga besar...
    Terima kasih sudah menceritakan ini secara detil. Pasti di luar sana banyak pasangan yang membutuhkan. Saya yang awam tentang berbagai istilah di atas, jadi tahu dan tambah wawasan..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba dian udah berkenan utk baca 😊🙏🏻
      Iyaa mba, ikut seneng deh kalo bisa bermanfaat buat orang lain

      Hapus
  2. Aku selalu salut sama yang program hamil sampai harus keluar kota. Aku tahu banget pasti berat. Aku dalam kota mondar mandir rumah sakit aja rasanya capek ditambah pengaruh obat hormon bikin makin ga moody kadang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu batab di jkt kah mba? Iya mood swing emang pengaruh banget, apalagi kalo ga ada yg nemenin, jadi baper
      Semangat dan tetep berusaha yaa mba ❤️

      Hapus
  3. Wah mbak, aku terharu baca ceritanya.. Bener-bener perjuangan demi punya anak ya mbak.. Makasih sharingnya mbak, bermanfaat banget nih.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trima kasih mba anin udah berkunjung 😊🙏🏻 Ikut Seneng kalo bisa bermanfaat ❤️

      Hapus
  4. Mbak inge, aku jd pengen nangis bacanya. Salut perjuangannya..Semoga diberi kesehatan sekeluarga ya mb :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba anggraeni udah berkunjung 😊🙏🏻 Amiin, doa terbaik juga utk mba anggraeni sekeluarga yaa ❤️

      Hapus
  5. Luar biasa mbak perjuangannya. Semoga selalu diberikan kesehatan dan rezeki selalu untuk mbak dan keluarga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba annisa udah berkunjung 😊🙏🏻 Amiiin, doa terbaik juga yaa buat mba annisa sekeluarga ❤️

      Hapus
  6. Perjuangan banget itu ya mbak...tahun 2014 saja biayanya sudah segitu. Kira-kira naik berapa banyak yaa di tahun 2017 ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya lumayan mba hehe..nah itu aku juga kurang tau mba, aku ga update lagi perkembangannya sekarang

      Hapus
  7. aku pengen banget punya anak, semua proses pemeriksaan sudah dilewati tinggal ikut program bayi tabung sih cara lainnya tapi belum siaap :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mba, minta dukungan suami dan keluarga juga. Semoga lancar dan dimudahkan usahanya yaa ❤️ Trims udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  8. Mba Ingee, hiks, aku cape sendiri mengikuti cerita bayi tabung ini. Tapi terharu dan salut banget dengan perjuangannya. Sampe wara wiri Makassar, Sby, Jogya.

    Ahh, perjuangan yg melelahkan tapi membuahkan hasil ya Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ikutan cape ya mba bacanya? Iyaa mba, trims ya udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  9. Masya Allah, perjuangannya mbak. Salut deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  10. Makasih infonya mba inge, salam kenal, terharu baca perjuangan mba buat memiliki anak. Link blog ini saya share ke teman yg lagi mau bikin bayi tabung juga di surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba hanny, trims ya udah berkenan utk berbagi, trims juga udah berkunjung 😊🙏🏻❤️

      Hapus
  11. Wah luar biasa ya, mbak perjuangannya. Makasih juga sharingnya sekarang saya jadi tahu proses bayi tabung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻❤️

      Hapus
  12. Hebat perjuangannya mba, dulu aku akhirnya ngga jadi IVF krn takut ngga konsisten & kuat suntik2 sambil kerja.... Sehat2 selalu ya mba, tulisannya sangat menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? Semoga dilancarkan dan dimudahkan usahanya ya, tetep semangat, minta dukungan suami dan keluarga juga ❤️
      Trims ya udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  13. Waw perjalanan dan perjuangan yg panjang sekali ya bun. Selamat utk khmilannya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  14. Saya salut banget ama perjuangan mbk inge...selamat ya mbk...akhirnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  15. jd tahu proses bayi tabung kyk apa nih. Smg anaknya sehat trs ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut seneng kalo bermanfaat mba, amiin, trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  16. Detail banget ceritanya Mbak. Alhamdulillah jadi punya gambaran bayi tabung sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut seneng mba kalo bermanfaat ❤️ Trims yaa udah berkunjung 🙏🏻😊

      Hapus
  17. Alhamdulillah bayi tabungnya berhasil ya mbak di rs siloam, bayinya sekarang usia berapa mbak😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, alhamdulilah, hehe
      Sekarang udah 2,5 tahun mba
      Trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  18. Paling seneng ending yang bahagia. Luar biasa perjuangan mbak dan suami mendapatkan buah hati. Semoga artikel ini ditemukan oleh mereka yang membutuhkan infonya jg ya mbak Inge. Terima kasih sudah berbagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa mba, amiiin, seneng kalo bisa bermanfaat
      Trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  19. Terimakasih sharingnya ttg bayi tabung luar biasa deteil. Sangat bermanfaat sekali mbak 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut seneng mba kalo bisa bermanfaat ❤️ Trims mba udah berkunjung 😊😊

      Hapus
  20. Alhamdulillah banget ya mbak, dan itu tempatnya kayanya nyaman banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, lumayan hehe..
      Trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  21. luar biasa blognya, dari baca blog bisa dapat informasi seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims kak udah berkunjung 😊🙏🏻 Ikut seneng kalo bisa bermanfaat ❤️

      Hapus
  22. Wah, mba Inge luar biasa sekali.. Ini informasi nya berguna banget. Semoga bisa memberi pencerahan kepada pasangan yang ingin memiliki momongan... Tetep semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, hehe..ikut seneng kalo bisa bermanfaat ❤️ Trims yaa udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  23. Bermanfaat mbak. Saudara baru2 ini juga progam bayi tabung di siloam. Hamil satu bulan, tapi gagal mbak. Keguguran lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? Ikut berduka ya 😢 Semoga diberi keikhlasan, dan rencana ke depannya semoga dilancarkan dan dimudahkan 🙏🏻

      Hapus
  24. Perjuangan y mba dan berbuah manis :) artikel ini pasti banyak yang cari semoga tetap sehat y mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, amiiin
      Trima kasih udah berkunjung 😊🙏🏻

      Hapus
  25. Terimakasih atas informasinya Mba. Kalau di Siloam Jakarta, ada program bayi tabung juga enggak ya?

    BalasHapus
  26. Sama2 mba. Kalo di jakarta saya kurang tau dimana aja yg melayani batab dan rs mana yg recommended. Saya cuma tau di morula, karena artis tya ariestya dulu batab disitu. Coba cek IG nya @tya_ariestya dan @morula_ivf

    BalasHapus
  27. Kalau siloam jakarta saya kurang tau melayani batab atau ga mba

    BalasHapus
  28. perjuangan yang luar biasa mbak... semoga artikel ini bermanfaat buat yang membutuhkan... terima kasih sharingnya mbak...

    BalasHapus
  29. Beruntung sya menemukan artikel ini bu inge ,sya sdh 8 thn belum jg hamil ikut promil sna sni dan blm jg beruntung,rencananya mw nanya 2 jg buat bayi tabung d srby,perasaan takut gagal jg menghantui semoga aku seberuntung bu inge ya 😊 trimksih ats sharingnya

    BalasHapus
  30. Keren dan proses cukup panjang. Kalau boleh tahu. Bu Inge dan suami sdh menikah berapa lama? Dan sdh umur berapa waktu program tersebut? Thx u

    BalasHapus