SOCIAL MEDIA

Rabu, 08 November 2017

Tolong Jangan Tanya Lagi Kapan Aku Hamil


Sejak sekolah kita selalu dihadapkan dengan pertanyaan dan pilihan. Yang udah duduk di bangku kelas 6 SD, pasti ditanya mau masuk ke SMP mana. Naik kelas 3 SMP, pasti ditanya mau masuk ke SMA mana. Menjelang kelulusan SMA, udah pasti ditanya mau kuliah di universitas mana, jurusan apa. 

Nah yang udah kuliah nih pasti tau banget rasanya kalau ditanya kapan lulus? Kalau yang nanya sesama temen sih mungkin masih bisa dijawab sekenanya ya, misalnya "lulus? bentar lagi kok" atau "lulus? kapan-kapan deh" hehehe.

Beda cerita kalau yang nanya pacar. 

"Mas, kapan lulus? Cepetan lamar aku." , nah loh kalau kayak gitu gimana jawabnya? LOL

Nanti kalau udah lulus, pasti ada yang nanya lagi. Mau kerja dimana? Kerja ikut orang atau wirausaha?

Terus kalau udah kelamaan kerja, udah punya pacar juga, bakal ada yang nanya. Kapan nikah?

Mending kalau yang ditanya itu yang udah punya pacar ya. Kalau yang ditanya itu jomblo, waduh yang nanya ini minta diceburin ke laut kayaknya, hahaha.

Pertanyaan pun berlanjut. 

Setelah nikah, kapan punya anak? Udah hamil belum? Udah punya anak 1, nanti ditanya lagi, kapan nambah lagi? Kasian anakmu sendirian di rumah nggak ada temen main. 


Kapan hamil?

Pertanyaan-pertanyaan di atas secara nggak sadar kadang kita sampaikan dalam rangka basa basi ya. Dulu saya pun demikian. Kadang lama nggak ketemu temen terus nanya hal-hal kayak gini. 

Sampai akhirnya saya juga mengalami jadi obyek yang ditanya, kapan nikah? Kapan hamil? Jujur ternyata nggak enak buat ngejawabnya. Karena itu hal yang sensitif dan private ya. Dan jawaban kita kadang bikin bumerang buat kita sendiri.

Kalau dijawab mau nikah 6 bulan lagi, nanti dibilang, loh kok cepet banget? Kamu nggak hamil kan? 

Atau kalau dijawab nikahnya masih lama kok, kerja dulu ngumpulin modal buat nikah. Nanti pasti ada yang jawab lagi, jangan kelamaan, selama janur kuning belum melengkung kekasih bisa diambil orang.

Nah, serba salah kan? Mau jawab cepet atau lambat kadang responnya sama-sama bikin kesel. 


Makanya lama kelamaan saya belajar untuk membuka pembicaraan dengan topik yang lain. Misalnya, sekarang tinggal dimana? Sibuk apa sih sekarang?

Seumur hidup, kalau ngomongin pertanyaan yang paling sensitif yaitu saat ditanya kapan hamil. Hampir setiap pasangan yang baru menikah pasti dapet pertanyaan kayak gini. Seolah-olah hamil itu adalah kewajiban seorang istri.

Gimana kalau ternyata yang kita tanya itu udah menanti sekian tahun, udah ikut program hamil, tapi tak kunjung dikaruniai anak dan akhirnya memutuskan untuk ikhlas?

Atau gimana kalau yang kita tanya itu memang sejak awal menikah memutuskan untuk tidak mau memiliki anak? 

Terlepas dari apapun responnya atas pertanyaan tersebut, saya selalu terkagum dengan kedua tipe wanita di atas. Yang satu ikhlas dalam penantian sedangkan yang satu dengan berani memutuskan untuk tidak memiliki anak. Dan saya pun tergelitik untuk membahas dari sudut pandang mereka.


Ikhlas dalam Penantian

Anak itu adalah anugerah, yang kedatangannya nggak bisa kita atur semau kita. Malah kebanyakan yang terjadi, yang udah kepengen banget nggak dikasih, tapi yang nggak pengen justru dikasih. 

Itu adalah misteri ilahi. Tapi kalau mau dilihat dari sisi positifnya, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Keduanya sama-sama diuji supaya sabar. Yang satu harus sabar dalam merawat anak, yang satunya lagi harus sabar dalam menanti kehadiran anak.

Dan kebanyakan orang akan bertanya  "Why me?" Kenapa saya? Bukan orang lain?

Saya selalu ingat adegan dalam film Evan Almighty, saat istri Evan mempertanyakan kepada Allah kenapa suaminya berlagak seperti orang gila, membangun bahtera di tengah musim panas. Kenapa suaminya yang dipilih, bukan orang lain.

Morgan Freeman yang di film itu berperan sebagai Allah pun menjawab "Ketika kamu berdoa meminta kesabaran, apakah Allah akan serta merta memberimu kesabaran atau justru akan memberimu kesempatan untuk bersabar?"

Kalau dicermati di bagian awal film, memang Evan berdoa kepada Allah supaya dia bisa mengubah dunia. Oleh karena itu, Allah memberinya kesempatan untuk menjadi pribadi yang mengubah dunia.

So, perlu diingat doa seperti apakah yang kita panjatkan setiap malamnya?


Kalau pun kita nggak meminta kesabaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga, bukankah setiap rumah tangga diuji dengan berbagai macam permasalahan yang berbeda, yang memang menuntut kita untuk selalu sabar?

Dalam prakteknya, menjadi sabar itu memang nggak mudah. Apalagi dalam posisi sebagai wanita yang menantikan kehadiran seorang anak. Tekanan dari keluarga, temen-temen, perasaan minder, sampai perasaan gagal menjadi wanita seutuhnya pasti pernah mampir dalam benak wanita-wanita ini. Yes, saya pun pernah merasa demikian.


Tapi yang bikin saya salut adalah beberapa dari wanita yang saya temui ini justru bersinar dengan talenta nya. Ada yang berkarya menjadi seorang designer, berkarya dalam dunia tulis menulis, pendidikan, dll.

Dengan belum hadirnya seorang anak, mereka mampu memaksimalkan bakatnya dalam berkarya. Bukankah itu suatu rejeki yang patut disyukuri? Karena rejeki memang bisa datang dalam berbagai bentuk ya, bisa uang, kesehatan, pekerjaan, pasangan yang setia, dan anak. 

Ada pasangan yang akhirnya fokus dalam karya dan pekerjaan mereka, setelah sekian tahun saat kondisi finansial dan mental mereka sebagai orang tua udah siap, Allah kirimkan anak untuk mereka.

Ada juga yang sekian tahun menunggu namun penantian itu tetap tak membuahkan hasil. Di balik itu, ternyata Allah menghendaki mereka untuk menjadi berkat bagi orang lain dengan mengadopsi seorang bayi.

Who knows? Kita nggak tahu masa depan seperti apa.


Nggak Mau Punya Anak

Saya akan angkat topi untuk wanita ini. Di luar negeri, kondisi seperti ini mungkin biasa ya. Tapi di Indonesia, saya rasa seorang wanita yang nggak mau punya anak akan di cap egois. 

Kehadiran anak seakan-akan menjadi momok. Nggak bisa dipungkiri, kehidupan pernikahan sebelum ada anak dan sesudah anak itu memang jauh berbeda. Akan ada banyak hal yang berubah sejak kehadiran seorang anak di tengah keluarga :

1. Waktu berdua dengan suami jadi minim

Sekali punya anak, anak akan terus ngikutin kita seharian. Kita cuma bisa bebas pas anak-anak tidur. Bahkan kita mau mandi pun mereka maksa pengen ikut. Jadi, bersyukurlah para wanita yang punya ART dan atau orang tua yang bisa dititipi anaknya selama pacaran dengan suami. 

2. Anak = biaya

Pengeluaran buat anak-anak itu memang banyak. Vitamin, biaya imunisasi, mainan, pakaian yang layak, belum lagi kalau anak sakit. Ditambah lagi biaya sekolah yang naik tiap tahun. Suami dan atau istri butuh pekerjaan yang mapan untuk dapat membiayai anak, misalnya kalau anak sakit biaya pengobatan bisa ditanggung kantor. 

3. Emosi nggak stabil

Jadi ibu itu butuh kesiapan mental karena ibu adalah profesi yang berhadapan dengan ketidakpastian setiap harinya. Karena ketidakpastian inilah emosi ibu bisa naik turun. Hari ini mau makan dengan lahap, besok belum tentu. Kalau anak masih satu, lebih mudah untuk dihandle. Kalau anak udah dua, satu hari nggak ada yang berantem itu udah sujud syukur banget.


4. Waktu ngumpul bareng temen jadi minim

Ngurus anak adalah pekerjaan yang melelahkan. Kalau udah kelelahan, mau pergi bareng temen jadi nggak mood. Kalaupun akhirnya bisa pergi dengan ngajak anak, barang bawaannya segambreng kayak orang mau pindahan. Belum lagi kalau macet di jalan kelamaan, anak jadi rewel. So, kadang mesti mikir dua kali untuk bepergian.

5. Beda pola asuh anak antara suami dan istri

Biasanya sebelum ada anak, suami istri jarang ada konflik. Tapi setelah ada anak, hal sepele bisa jadi masalah. Contoh, anak nangis-nangis di toko minta mainan. Istri ngotot nggak boleh beli mainan karena kemarin barusan beli. Suami yang kasian sama anak akhirnya nggak tega dan mau beliin anaknya mainan. Ributlah suami dan istri.


Hal-hal di atas sangat mungkin menjadi bahan pertimbangan para wanita yang memutuskan untuk nggak mau punya anak. Pada akhirnya mereka memilih untuk tetap bebas, bebas bepergian bersama suami tanpa memikirkan anak, bebas berkarya dalam pekerjaannya,  dan bebas mengembangkan kehidupan sosialnya. Dan yang paling penting mereka bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani.



The conclusion is...

Untuk para wanita hebat di luar sana,

Nikmatilah rejeki yang Allah  kirimkan, pekerjaan yang mapan, pasangan yang setia, kesehatan. Rejeki tiap orang berbeda dan Allah tahu mana yang terbaik buat kita. Tugas kita adalah meminta padaNya dan jawabannya bisa saja belum atau tidak. Kalau Dia bilang belum, berarti memang belum saatnya atau saat ini kita belum siap menerimanya. Kalau Dia bilang tidak, berarti Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Karena dalam keyakinan saya diajarkan bahwa tujuan utama pernikahan bukanlah anak melainkan ibadah. Sudahkah kita serupa dengan gambar Allah, yang mau melayani dan menghargai pasangan kita dengan tulus dan tanpa pamrih? Itu esensi pernikahan sesungguhnya.

Walaupun penantian saya akan kehadiran anak nggak lama, hanya 5 bulan, tapi percayalah bahwa kesabaran dalam menanti anak itu nggak ada apa-apanya dibanding kesabaran dalam membesarkan dan mendidik anak.

Kita nggak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut orang lain, jadi lebih baik kita menutup telinga dari apapun yang bikin hati kita nggak nyaman.


Untuk kita yang masih sering tanya lagi dan lagi,

This is also a reminder for me. Pertanyaan kapan hamil lebih baik ditujukan pada orang yang bener-bener deket dengan kita. Kalau nggak sengaja ketemu temen lama, lebih baik tanyakan tinggal di mana, sibuk apa sekarang. Daripada kita sok perhatian tapi ternyata melukai hati orang lain, bukan? 

Dan setiap orang berhak punya pilihan atas hidupnya, so please respect others.

***

Do not judge my path, you haven't walked in my shoes ... or ridden my broom. - A.M. Galdorcraeft

29 komentar :

  1. terimakasih atas masukannya. sisi opini yang bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mba udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  2. Thanks for the reminder Mba. Karena aku ga nyaman dengan rentetan pertanyaan 'kapan-kapan-dan-kapan' ini jadi aku bikin rules ke diri sendiri ga akan nanya pertanyaan begitu ke orang lain hehe. Soalnya banyak banget bisa diobrolin selain ini kan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa sama mba aku juga gitu, hehe
      Trims yaa udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  3. Benar sekali, kita nggak bisa ngelarang orang mau ngomong apa, jadi harus tutup telinga biar nggak gampang sakit hati yaa... terima kasih sharingnya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull mba hehe, sama2 mba
      Trima udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  4. Ya kapan punya anak lagi? Pertanyaan itu yang sering menyerbu diriku Mba hehhe
    Apapun pilihan pasutri, sebaiknya kita menghargai ya, karena yang menjalani mereka. Orang hanya seenak udele kalo ngomong, dan aku berprinsip cukup anak 1 aja, udah bahagia ko dan biar bisa jalan2 eeaaa

    Makasih Mba, tulisannya nendang banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iyaa mba, aku sekarang ngrasain anak 2 aja rempong banget
      Trims yaa udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  5. Terimakasih sharingnya..

    Memang terkadang pertanyaan2 sensitif membuat, gmn gtu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa mba, trims yaa udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  6. Pertanyaan sensitif memang terkadang membuat kita sedih dan marah... tapimau gimsna lagi kalau pertanyaan sudah terlontar musti telinga yang harus ditebalunπŸ˜ƒ

    BalasHapus
  7. Pertanyaan sensitif memang terkadang membuat kita sedih dan marah... tapimau gimsna lagi kalau pertanyaan sudah terlontar musti telinga yang harus ditebalunπŸ˜ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull, tutup telinga rapat2 hehe
      Trims yaa mba udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  8. Huaah, jd inget bidan yg nanganin aku lahiran anak ketiga. Sambil beresin jahir jalan lahir, sempet2nya tanya kapan mau nambah lagi? Pingin nonjok rasanya.

    BalasHapus
  9. Kalo aku pertanyaan yang ingin kuhindari adalah kerja dmn? Knp nggak kerja lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa kadang ken ga kerja jadi bikin minder ya mba. Tapi di rumah pun kita bisa berkarya kan yaa

      Hapus
  10. Sama mba, ak juga gak mau nanyain pertanyaan pertanyaan kayak gitu. Selain gak berfaedah bs bikin obrolan jadi gak nyaman. :(

    BalasHapus
  11. Selama ini banyak hal hal yang sebenernya adalah pilihan seakan akan menjadi satu yang wajib atau harus dilakukan. Padahal, kadang ada orang yg memang ga hamil dan gak punya anak tapi dia bisa berkarya besar buat masyarakat. Ada juga yang ga menikah tapi dia bisa jadi orang hebat bangun karir dan berkarya untuk bangsanya. Gak selalu yang jadi pakem orang kebanyakan itu adalah acuan. Tuhan kasih anugerah dan titipan macem macem buat manusia. Dan sekarang tinggal bagaimana bisa terus bermanfaat.

    Dan sepengetahuankundari orang2 di sekitar, banyak orang stress ga hamil hamil dan punya anak bukan cuma karena dia pengen banget, tapi tekanan sosial dan pertanyaan2 mengganggu seperti itu.

    BalasHapus
  12. Aku juga suka kesel kalau ditanya2 gitu mbak.. Bawaannya emosi banget, yakan semuanya misteri Tuhan ya.. Kita cuma bisa menjalaninya,tapi kadang orang lain seenaknya berkomentar.. Hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull mba, harus tutup telinga rapat2 hehe
      Trims yaa udah berkunjung πŸ˜ŠπŸ™πŸ»

      Hapus
  13. Aku suka ngerem2 mbk klau mau tanya2. Takutnya pertanyaanku malah bikin yg ditanya jd maknyonyor. Soalnya sudah ngerasain sendiri gmn rasanya ditanya2 hal2 yg bikin hati makjleb jleb dan sukses bikin tertekan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull, karena kita udah ngrasain sendiri ga enak ditanya2, jadi kita melakukan hal yg sama ke orang lain ya

      Hapus
  14. Jadi kepengen nonton film Evan Almighty :D
    Btw iya pertanyaan kapan hamil itu sih gak bis adijawab kecuali oleh Tuhan YME. Saya sama yg deket aja gk berani nanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ayokk nonton mba, bagus dan lucu lohh
      Betull mba, mending ga usah nanya sama sekali yaa

      Hapus
  15. Aku berulangkali ditanya kapan nambah anak lagi. Padahal banyak yang harus dipertimbangkan untuk hamil dan menjaga serta merawat anak. Tetap semangat ya buat menjalani hidup ya mba. Kita yang jalani dan kita tahu mana yang terbaik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull banget mba, banyak yg harus dipertimbangkan sebelum nambah anak

      Hapus