SOCIAL MEDIA

Senin, 26 Februari 2018

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Dilan dan Milea


Minggu lalu saya udah selesai baca novelnya Dilan seri kedua dan ketiga. Seri kedua memang lanjutan dari seri pertama yaitu bercerita tentang kelanjutan hubungan cinta Dilan dan Milea. Nah yang seri ketiga nya sama dengan seri kedua tapi ceritanya dari sudut pandang Dilan. 

Seri ketiga ini yang bikin saya suka karena kita sebagai pembaca bisa ngerti apa yang sebetulnya terjadi dan apa yang mereka berdua rasakan. Nggak cerita sepihak dari Milea aja.

Walaupun udah selesai baca bukunya tapi nggak tau kenapa cerita Dilan dan Milea ini terngiang-ngiang terus di kepala saya. Mungkin karena ini kisah nyata ya jadi memang feel nya dapet banget. 

Terus ada filmnya juga jadi meskipun saya belum nonton, tapi lewat trailernya minimal saya bisa membayangkan tokoh dan latar tempatnya.

Saya nggak akan membahas buku kedua dan ketiga secara detail, biar temen-temen yang belum baca jadi penasaran dan mau baca bukunya sendiri, hehe. Yang jelas ending dari ketiga seri ini nggak sesuai dengan harapan saya, dan mungkin harapan temen-temen juga. 

Di prolog buku pertama pun udah dijelaskan bahwa Milea akhirnya menikah dengan lelaki lain, yaitu Mas Herdi, bukan Dilan.

Yang sangat disayangkan adalah mereka berdua putus karena hal yang sederhana kalau menurut saya. Iya, karena gengsi!

Awalnya memang Milea duluan yang mutusin Dilan. Hal itu bukan tanpa alasan, karena udah berkali-kali Milea ngingetin Dilan supaya keluar dari geng motor dan jangan berantem. Tapi berulang kali juga Dilan nggak dengerin Milea.

Buat saya itu wajar, karena kalau saya di posisi Milea pun pasti saya akan ngelarang pacar saya melakukan hal-hal yang akan membahayakan dirinya. 

Apalagi ditambah peristiwa terbunuhnya Akew, temen satu geng motor Dilan yang tewas terbunuh akibat dikeroyok, yang belakangan diketahui penyebabnya ternyata bukan karena geng motor tapi karena kesalahpahaman.

Di sisi lain, Dilan ngerti banget maksud Milea berbuat seperti itu. Cuma di mata temen-temen Dilan, Milea terkesan mengekang Dilan dan pada akhirnya Dilan pun juga merasa lelah dengan kelakuan Milea. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya dia tetep mencintai Milea.

Setelah diputusin Milea, nggak sengaja Dilan tau dari si bibi kalau Milea sempat keluar bareng Gunar, lelaki yang nggak diceritakan Milea di buku kedua. Sayangnya, Dilan menduga Milea udah pacaran sama Gunar.

Terus nggak lama setelah itu ayah Dilan meninggal. Milea juga ikut melayat ke makam ayahnya Dilan, dan saat itu dia lihat di samping Dilan ada perempuan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Milea pun menyangka perempuan itu adalah pacar Dilan yang baru.

Jadi, mereka berdua sama-sama saling menduga tanpa mengkonfirmasi satu sama lain.

Bikin gemes nggak sih? Seharusnya mereka berdua bisa tetep bersatu seandainya mau saling jujur, nggak egois, nggak gengsi, nggak menghakimi. Hukum aja pakai asas praduga tak bersalah kan? Hahaha.

Saya nggak bisa menyalahkan Dilan dan Milea karena mereka dulu anak SMA yang emosinya masih labil. Saya bisa bilang gitu karena dulu saya juga mengalaminya.

Waktu SMA dulu, saya sama mas pacar (baca : suami) pernah bertengkar hebat gara-gara cowok yang pernah naksir sama saya jaman SMP. Padahal pas SMA juga udah nggak pernah ketemu sama cowok itu. Tapi berulang kali dia bahas terus, sampai saya pun udah nggak tahan dan akhirnya bilang putus. 

Itu pun gara-gara pas jam sekolah dia sms cuma ngebahas cowok itu. Dia menduga kalau saya masih suka sama si cowok. 

Habis saya putusin dia terus bingung, kenapa kok dia diputusin padahal dia nggak ngerasa ngelakuin kesalahan. Dia bilang kalau yang sms itu bukan dia, tapi temennya yang jahil pas jam istirahat hpnya disabotase.

Waktu itu rasanya susah buat saya percaya karena model tulisannya sama, nggak bisa saya bedain kalau itu orang lain. Pokoknya apapun alasan dia nggak saya gubris. Kejem banget ya? Hahaha.

Dia tetep sms saya tiap hari, pokoknya nggak rela diputusin karena dia ngerasa dia nggak salah. Terus kalau nggak salah selang satu minggu saya dapet kabar dia kecelakaan. Naik mobil sih, jadi dia nggak apa-apa, cuma jari nya yang keseleo dikit. 

Walaupun masih sebel sama dia, tapi hati ini nggak bisa berbohong. Terlepas dari apakah beneran dia yang sms atau bukan, dalam hati saya masih ada rasa untuknya. Bahwa dia masih layak untuk diberi kesempatan kedua.

Saya lupa ceritanya yang jelas cuma 2 mingguan kami putus terus akhirnya kami balik pacaran lagi, hehe.

Kalau Tante Vina Panduwinata bilang “cinta tak kenal dengan logika”, itu benar adanya. 

Bahwa ketika seseorang terlalu mencintai, semuanya akan dilakukan demi sang pujaan hati.

Kisah Dilan dan Milea ini buat saya pribadi mengajarkan bahwa dalam suatu hubungan percintaan, percayalah dengan apa yang kita yakini tentang pasangan kita. Jangan dengarkan kata orang lain tanpa mengklarifikasi apa yang sebenernya terjadi. Jangan menghakimi dan jangan menduga apa yang belum tentu benar. 

Dan satu hal yang pasti, kalau memang jodoh Tuhan akan bukakan jalan untuk kita sesulit apapun jalannya. Sebaliknya, kalau memang nggak jodoh, mau diusahakan seperti apapun juga pasti ada halangan di tengah jalan.

Harapan saya, buku seri kedua ini akan difilmkan suatu hari nanti. Mungkin akan menarik juga kalau dibikin buku seri keempat yang menceritakan tentang Milea dan Mas Herdi dari sudut pandang Mas Herdi, bagaimana sikap Mas Herdi terhadap Dilan setelah Mas Herdi tau tentang kisah Dilan dan Milea.

Gimana menurut temen-temen? Setuju? Semoga yaa.





Tidak ada komentar :

Posting Komentar