SOCIAL MEDIA

Kamis, 05 April 2018

Ingin tulang anak kuat? Kaldu tulang sapi juaranya


Belakangan ini saya baru rajin bikin kaldu dari tulang sapi. Sebetulnya udah tau lama sih kalau sumsum yang ada di dalam tulang kaki sapi itu bagus buat perkembangan otak dan pertumbuhan tulang anak. Plus katanya sih bagus juga buat meningkatkan nafsu makan. Tapi memang saya nggak kasih ke anak-anak sejak mereka mulai mpasi.

Alasannya karena waktu itu tinggal di Makassar, kalau mau beli tulang kan harus ke pasar. Saya dan suami nggak tau harus nyari di pasar mana. Alhasil dulu bikin kaldu yang gampang aja deh dari daging dan ceker ayam.

Tapi itu pun cuma bertahan sampai anak-anak umur 1 tahun. Setelah 1 tahun, kalau bikin sup biasanya saya pakai air biasa, nggak pakai kaldu. Kali ini karena nggak sempat dan saya pribadi malas repot. Duh, ibu macam apa ini.

Jujur memang saya bukan tipe ibu yang perfeksionis. Saya memang cenderung santai dan nggak terlalu ambil pusing dalam hal tertentu. Saya percaya bahwa anak sehat nggak cuma dari asi, nggak cuma dari kaldu ayam atau sapi, tapi ya dari keseluruhan apa yang masuk ke tubuhnya. 

Nah karena sekarang saya udah ada ART, lumayan banget dong tenaga nya dimanfaatkan buat bikin kaldu sapi. Untungnya lagi di dekat rumah ada pasar, jadi mbak ART saya mintain tolong ke pasar buat beli tulangnya.

Kemarin ini saya beli tulang kaki sapi 2 buah, besarnya kurang lebih kayak lengan saya. Harganya lumayan ya 1 tulang Rp 20.000,-. Sedangkan yang ukurannya lebih besar Rp 35.000,-. Kalau punya panci yang besar lebih hemat beli tulang yang besar ya.

Air untuk merebusnya nggak saya takar sih, tapi kira-kira 1-1,5 liter ya. Saya juga nggak hitung merebusnya harus berapa jam. Yang penting sih air rebusannya udah tinggal separuh. 

Kalau kita amati kan kelihatan sumsumnya berwarna putih di bagian tengah. Nah sumsumnya itu  ditusuk-tusuk pakai sumpit biar rontok semua bercampur sama air kaldunya. Tekstur sumsumnya ini kayak lemak, empuk-empuk gitu. 

Kalau udah bersih sumsumnya, tinggal dimasukin ke plastik aja terus disimpan di freezer, bisa buat stok seminggu.

Pas pertama kali bikin kemarin saya jadikan 2 plastik aja. Terus sekali masak saya pakai 1 plastik full kaldu semua nggak saya campur air biasa. Kuahnya jadi bagus sih, kental gitu. Tapi minusnya karena anak-anak makannya lama, kuahnya jadi keburu ‘ngendal’. Padahal tiap kali mau makan udah dipanasin.

Btw, ada yang tau artinya ‘ngendal’? Orang Jawa Tengah bilang berlemak dan lemaknya mengeras. Kalau anaknya makannya cepet sih nggak apa-apa. Mending kuah kaldunya dijadikan kuah sup semua, jangan dicampur air. Tapi memang jadi lebih boros, hehe.

Nah pas bikin yang berikutnya akhirnya kuah kaldu rebusan tulangnya saya jadikan 4 plastik kecil-kecil. Jadi pas bikin sup nanti dicampur dengan air, biar nggak terlalu berlemak karena anak-anak lama makannya.


Ini foto kaldu yang udah beku. Yang warna putih itu sumsumnya. Sebetulnya itu bukan lemak ya, tapi memang bentuk dan teksturnya kayak lemak. 

Mau kaldu ceker ayam atau kaldu tulang sapi, semua bagus sih menurut saya. Tinggal pilih mana yang dirasa lebih nggak ribet aja bikinnya. 

Toh gizi juga nggak cuma didapat dari kaldu aja kan. Yang penting usahakan variasi sayur, buah, protein, susu yang seimbang.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar