SOCIAL MEDIA

Minggu, 26 Agustus 2018

Long Distance Marriage




Beberapa waktu lalu blogger favorit saya membahas tentang Long Distance Marriage (LDM) di story Instagram nya. Saya pun jadi tergelitik ingin membahas hal yang sama walaupun saat ini saya tidak sedang menjalani LDM.

Di kalangan para pejuang LDM, saya hanyalah butiran debu, pernah mencicipi pahit manisnya LDM hanya selama 1 tahun aja kurang lebih. Tepatnya pertengahan tahun 2014 pas udah positif hamil dan memutuskan buat tinggal di Jogja aja.

LDM itu ada enak dan ada nggak enaknya, nggak melulu semuanya nggak enak, tapi saya akan sedikit membahas dari sisi seorang introvert, dengan kondisi belum ada anak dan udah ada anak. 


Bagi seorang introvert, kesendirian adalah surga dunia. Sendiri dalam arti mereka butuh waktu untuk merecharge energi mereka misalnya dengan berdiam di kamar sambil baca buku atau mendengarkan musik. Bertolak belakang dengan para ekstrovert yang mendapatkan energi mereka dengan ngumpul dan ngobrol sama temen. 

Buat saya yang seorang introvert, LDM membuat saya lebih produktif, karena nggak ada suami yang perlu dilayani 24 jam, hehehe. Melakukan hobi dan me time juga lebih leluasa. Kebetulan suami juga introvert, jadi LDM nggak terlalu jadi masalah banget, yang penting komunikasi lancar. Biasanya dulu pas berangkat kerja suami nelpon dulu. Kalo pas di kantor jarang chat, misalnya iya pun lewat whatsapp seperlunya aja. Terus nanti telpon lagi pas suami udah pulang.

Nggak enaknya ya standar lah, kangen dan berat di ongkos. Ya ongkos pulang balik dan ongkos pulsa plus kuota internet. Kalau belum ada anak masih cincai lah ya, masih bisa diatur dan diusahakan. 

Karena kemarin kondisi lagi hamil, jadi kadang sesekali ngerasa ih lagi hamil kok nggak ditemenin suami, belanja kebutuhan bayi sendiri, perut jarang dielus suami, gitu-gitu deh. Tapi bersyukurnya dulu ada mertua, kakak dan adik ipar yang supportif dan peduli banget sama saya, jadi nggak terlalu ngerasa sendirian.

Lain lagi kalau pasangan ekstrovert, tantangannya pasti lebih berat ya, karena mereka butuh buat sering ngobrol, sering ketemu. Jadi, memang ada pasangan ekstrovert yang LDM yang dalam sehari sering banget nelpon, tiap minggu harus pulang balik. Udah pasti ketebak gaji tiap bulan cuma lewat aja, nggak bakal bisa nabung. 

Nah, kemarin pas saya habis lahiran dan masih berstatus LDM, itu adalah tantangan terberat yang pernah saya alami sepanjang pernikahan. Nggak enak banget pokoknya, begadang ya begadang sendiri, nggak ada yang nemenin. Apalagi waktu itu saya sempat baby blues, ditambah nyesek karena rasanya kok gini amat ngurus anak sendirian padahal juga baru belajar jadi ibu. Mungkin lain ceritanya kalau anak udah agak gede ya, umur 2-3 tahun gitu, udah bisa diajak bercanda dan ngobrol. Sejak punya bayi, kebutuhan seorang introvert untuk bisa berdiam diri dan menyepi hampir nggak bisa dilakukan dan itu bikin saya stres.

3 bulan sejak lahiran, saya ngeluh ke suami kalau udah nggak kuat jauh-jauhan. Entah kenapa tapi beneran kerasa banget bedanya kalau udah ada anak tapi nggak ada suami yang nemenin. Rasanya kayak beban berat ditanggung sendirian, semuanya serba sendiri. Secapek-capeknya ngurus anak, tetep lebih enak kalau ada suami. Bukan hilang capeknya tapi terasa ada yang bantu menopang rasa lelah ini.

Kadang juga muncul pikiran negatif, bikinnya berdua tapi kok yang capek ngurus anak saya aja, suami enak-enak kerja ketemu temen kantor, pulang tinggal istirahat, makan, tidur. Padahal suami cerita kalau dia di sana juga kesepian. 

Akhirnya setelah ngeluh ini itu, pas si sulung umur 3 bulan saya resmi pindah ikut suami lagi sampai sekarang. Walaupun masih nomaden dan tantangan makin berat, tapi terasa sedikit lebih ringan kalau dihadapi bersama-sama.

Intinya, hampir nggak ada pasangan yang mau kalau harus memilih LDM. Tapi nyatanya nggak sedikit juga yang memang karena kondisi yang mengharuskan, mau nggak mau harus LDM. 

Misalnya, suami istri sama-sama harus kerja tapi beda kota. Kalau nggak kuat ya salah satu harus resign atau mengajukan mutasi kalau bisa. Atau kasus lain, kerjaan suami di daerah terpencil sedangkan anak-anak udah waktunya sekolah. Tinggal pilih, mau tetep sama-sama tapi pilih sekolah nggak sebagus di kota besar, atau pilih sekolah yang top tapi nggak bisa tinggal sama-sama.

Semuanya sama aja kok, tinggal siapa yang mau mengalah. Selalu ada yang harus dikorbankan. Bisa korban perasaan, tenaga, waktu, bahkan uang. Yang penting, seandainya memang harus LDM, tim support sebaiknya ada, minimal keluarga. Kalau nggak ada ya bisa saudara atau temen. Misalnya nggak ada sama sekali dari inner circle ya mau nggak mau harus cari temen baru. 

Hidup ini tiap hari selalu dihadapkan dengan pilihan ya. Hari ini mau makan apa, mau pakai baju apa, dst. Buat kalian yang masih berkutat dengan LDM, bersabarlah karena pasti akan ada waktunya kalian ngumpul lagi. Kapan? Hanya kalian yang bisa tentukan dateline nya.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar